Di tengah hiruk pikuk perkebunan sawit, sosok seorang ketua pimpinan buruh perempuan hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan perjuangan. Pesta Ulina Sinambela, Ketua Pimpinan Basis Perempuan F. SERBUNDO di salah satu perkebunan sawit di Sumatera Utara. Dengan keberanian yang ditempa oleh pengalaman pahit diskriminasi dan ketidakadilan, ia berdiri di garis depan, memastikan suara buruh—terutama perempuan—tidak lagi terpinggirkan. Dia menjadi Ketua Pimpinan Basis Perempuan Pertama di Federasi SERBUNDO yang menjadi ujung tombak perjuangan di tingkat kebun. Ia memahami betul beratnya beban ganda yang dipikul perempuan: bekerja keras di kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mengurus keluarga di rumah. Dari langkah kecil mengorganisir diskusi, hingga aksi kolektif menuntut hak-hak dasar, ia menjadikan kepemimpinannya bukan sekadar posisi, melainkan panggilan hati untuk memperjuangkan martabat manusia.
Kepemimpinan perempuan ini bukan hanya tentang menuntut upah layak atau perlindungan kerja, tetapi juga tentang menghadirkan harapan baru bagi generasi berikutnya. Ia menjadi simbol keberanian, teladan keteguhan, dan pengingat bahwa perubahan lahir dari tekad yang tidak pernah padam. Dengan suaranya yang lantang namun penuh kasih, ia meneguhkan keyakinan bahwa buruh perempuan bukan lagi objek penderita, melainkan subjek perjuangan yang menentukan arah masa depan. Kehadirannya menggugah nurani siapa saja yang mendengar kisahnya: bahwa di balik deru mesin dan aroma sawit, ada perempuan tangguh yang berdiri tegak demi keadilan.