Kasmiyati, GSBI
Pukul empat subuh, ketika sebagian besar orang masih terlelap, Kasmiyati sudah memulai harinya. Di rumah sederhana di Kalimantan Utara, ia menyiapkan makanan untuk anak-anak dan suaminya. Setelah itu ia menunaikan salat subuh. Belum lama matahari muncul, sekitar pukul 05.30 pagi, ia sudah berangkat bekerja.
Kasmiyati adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus buruh harian lepas (BHL) di sebuah perusahaan perkebunan sawit. Pekerjaannya tidak ringan. Setiap hari ia harus menyemprot dan memupuk tanaman sawit di bawah terik matahari dan medan kebun yang tidak selalu mudah dilalui. Dalam sebulan, ia harus memenuhi minimal 22 hari kerja. Jika tidak masuk karena sakit, hari kerja itu hilang dan upah pun tidak dibayar.
“Kalau sakit dan bawa surat dokter, tetap tidak dibayar,” katanya pelan.
Namun yang paling membekas dalam hidupnya adalah ketika kecelakaan kerja menimpanya.
Suatu hari di lapangan, Kasmiyati terkena benda tajam—parang—yang melukai lututnya cukup parah. Ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Dengan harapan biaya pengobatan bisa ditanggung, ia menyerahkan kartu BPJS miliknya. Namun harapan itu pupus.
Dokter mengatakan bahwa kecelakaan kerja tidak bisa menggunakan BPJS biasa.
Akhirnya, Kasmiyati harus membayar sendiri biaya pengobatannya. Ia kemudian menyerahkan semua dokumen rumah sakit kepada perusahaan agar biaya itu diganti. Tapi hingga berbulan-bulan berlalu, tak ada kabar.
“Katanya akan diganti. Tapi sampai sekarang belum ada,” ujarnya.
Meski luka belum sepenuhnya pulih dan haknya belum diberikan, Kasmiyati tetap kembali bekerja. Sebab jika ia tidak bekerja, penghasilan keluarga pun terhenti.
Pengalaman pahit itu membuka matanya. Ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami hal serupa. Banyak pekerja lain—terutama perempuan—yang menghadapi kondisi yang sama: bekerja keras di perkebunan, namun minim perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
Dari situlah keberanian Kasmiyati tumbuh.
Kini, ia aktif di serikat buruh, Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), dan mulai menyuarakan hak-hak buruh perempuan di perkebunan sawit. Ia berbicara tentang pentingnya perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, tentang keadilan bagi pekerja yang mengalami kecelakaan, dan tentang hak untuk diperlakukan manusiawi.
Luka yang pernah ia alami tidak membuatnya diam. Justru dari luka itu lahir tekad untuk memperjuangkan perubahan.
“Supaya perempuan lain tidak mengalami seperti saya,” katanya.
Di tengah kerasnya kehidupan sebagai buruh sawit, Kasmiyati menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang ia lahir dari seorang ibu yang bangun sebelum fajar, bekerja tanpa lelah, dan tetap memilih berdiri—bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain.
Kisah Kasmiyati mungkin sederhana. Namun dari ladang sawit di Kalimantan Utara, ia mengajarkan satu hal penting: bahwa suara perempuan, sekecil apa pun, bisa menjadi harapan bagi banyak orang.