Salam Serikat GSBI
Hidup Buruh
Hidup GSBI
Hidup Buruh Perempuan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan, nama saya Siska Apriani (29 tahun) dari Serikat GSBI Bengkayang, yang bekerja di salah satu perusahaan di Kalimantan Barat. Melalui kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita kepada teman-teman serikat mengenai perjalanan saya bekerja serta pengalaman saya hingga akhirnya bergabung dan aktif dalam serikat pekerja.
Sebelum masuk ke inti cerita, saya ingin menyampaikan bahwa saya telah bekerja di perusahaan tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Selama masa itu, saya mengalami berbagai pengalaman, baik sebelum berserikat maupun setelah memutuskan bergabung dengan GSBI.
Di tempat saya bekerja terdapat dua serikat pekerja, yaitu GSBI dan Hukatan. Hingga saat ini, GSBI menjadi salah satu serikat yang cukup besar dengan jumlah anggota sekitar enam ratus orang lebih. Kebetulan, Ketua PTP GSBI di perusahaan tersebut adalah paman saya sendiri, dan saya juga memiliki kedekatan dengan Ketua DPC serta pengurus serikat lainnya.
Dukungan dari mereka sangat berarti bagi saya. Selain memberikan semangat, mereka juga sering membantu ketika saya menghadapi kesulitan atau ketika saya merasa mendapatkan perlakuan yang kurang adil dalam pekerjaan.
Selama bekerja, saya beberapa kali mengalami situasi yang menurut saya belum sepenuhnya mencerminkan pemenuhan hak-hak pekerja secara optimal. Sejak awal bekerja hingga hampir sepuluh tahun, saya belum mendapatkan beberapa hak yang seharusnya diterima sebagaimana pekerja lainnya pada posisi yang sama, seperti premi kerajinan dan beberapa fasilitas kerja yang tersedia bagi pekerja lain.
Selain itu, terdapat beberapa kejadian di mana hari kerja (HK) saya tidak tercatat atau tidak terbayarkan karena kendala sistem atau fingerprint yang tidak terbaca. Hal tersebut terkadang menimbulkan kebingungan bagi saya, terutama ketika dalam beberapa kasus pekerja lain dengan kondisi serupa dapat memperoleh penggantian hak kerjanya.
Situasi tersebut membuat saya merasa kurang nyaman dan sempat menimbulkan perasaan tertekan dalam bekerja. Bahkan meskipun telah terjadi beberapa pergantian pimpinan manajemen, kondisi tersebut belum sepenuhnya berubah.
Selama sepuluh tahun bekerja, saya pernah menjalani berbagai posisi, mulai dari kerani kantor hingga menjadi kerani keliling. Dalam perjalanan tersebut, saya juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk pengalaman yang menurut saya kurang pantas dari beberapa oknum pimpinan, baik secara langsung maupun melalui komunikasi pribadi. Hal ini sempat saya sampaikan kepada pihak manajemen, namun pada saat itu belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas.
Akhirnya saya mulai menceritakan hal tersebut kepada rekan-rekan kerja dan kemudian memutuskan untuk bergabung dengan serikat GSBI. Sejak saat itu, saya merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman saya dan mendapatkan dukungan yang lebih kuat. Perlahan-lahan, beberapa persoalan mulai mendapatkan perhatian dan penanganan.
Setelah sepuluh tahun bekerja dengan status BHL (Buruh Harian Lepas), melalui proses perjuangan bersama GSBI akhirnya saya diangkat menjadi SKU atau KHT (Karyawan Harian Tetap). Bagi saya, hal tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang yang tidak hanya saya lakukan sendiri, tetapi juga bersama serikat.
Namun perjuangan tersebut tidak berhenti di situ. Sejak bergabung dan ikut aktif dalam kepengurusan GSBI di tempat kerja, saya mulai terlibat dalam berbagai kegiatan serikat, baik di tingkat daerah maupun di luar daerah. Pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya.
Melalui kegiatan serikat, saya belajar banyak hal, seperti meningkatkan kepercayaan diri, belajar berbicara di depan umum (public speaking), memahami pengalaman teman-teman buruh lainnya, serta membangun empati dan solidaritas. Semua pengalaman itu membuat saya semakin yakin bahwa berserikat adalah ruang penting bagi pekerja untuk saling belajar dan memperjuangkan hak bersama.
Namun setelah saya aktif mengikuti kegiatan serikat dan beberapa kali menyampaikan pengalaman pribadi dalam forum diskusi, saya merasakan adanya perubahan dalam situasi kerja saya. Saya pernah mengalami mutasi pekerjaan tanpa proses perundingan atau komunikasi yang cukup, bahkan sempat ditempatkan di lapangan sebagai pekerja biasa.
Ketika diminta menandatangani surat mutasi, saya menyampaikan keberatan dan meminta pendampingan dari Ketua PTP serta Ketua DPC GSBI, karena saya berharap setiap kebijakan dapat dibicarakan secara terbuka dan melalui mekanisme dialog yang baik.
Pada akhirnya, setelah genap sepuluh tahun bekerja, saya ditempatkan di lapangan dengan posisi Mandor Pupuk (mandor tabur) dengan alasan agar status saya dapat menjadi Karyawan Harian Tetap (KHT).
Meskipun demikian, dalam beberapa bulan awal setelah perubahan status tersebut, masih terdapat kendala terkait pemberian premi serta pencatatan hari kerja yang tidak terbaca oleh sistem fingerprint. Hingga bulan Februari kemarin, beberapa hal tersebut masih menjadi catatan dengan alasan kebijakan sistem yang berasal dari kantor pusat.
Demikian sedikit cerita dari pengalaman saya sebagai pekerja perempuan sekaligus anggota serikat. Saya menyadari bahwa dalam penyampaian ini tentu masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya sangat terbuka untuk menerima bimbingan, masukan, dan pengalaman dari teman-teman semua, agar kita dapat terus belajar dan memperkuat perjuangan bersama.
Terima kasih atas perhatian dan solidaritas teman-teman semua.
“Together we build, together we can.”
Lawan penindasan terhadap buruh perempuan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
