Di sebuah pojok kampung kecil di pelosok Borneo, di antara debu jalan tanah—yang bahkan terkadang becek bak bubur di kawasan perkebunan sawit—tersimpan kisah yang jarang dituliskan, namun layak untuk dikenang.
Ini adalah kisah tentang suami-suami yang tidak berdiri di depan, melainkan di samping istri-istrinya. Sebuah kisah tentang sosok laki-laki yang setia mendukung setiap langkah istrinya, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun dalam aktivitas berorganisasi.
Istrinya adalah seorang perempuan yang berani, lantang bersuara di organisasi buruh. Ia terlibat dalam rapat-rapat panjang, menyuarakan hak-hak pekerja, serta membela mereka yang kerap tak terdengar. Waktunya terbagi antara rumah, pekerjaan, dan perjuangan.
Tak jarang ia pulang dengan wajah lelah—wajah yang layu oleh tekanan. Ia membawa pulang cerita tentang intimidasi, intervensi, hingga cibiran dari orang-orang yang tidak menyukai keberaniannya.
Namun di rumah itu, selalu ada satu jiwa yang setia menemani.
Suami itu mungkin tak banyak bicara—baik dalam pekerjaannya sebagai seorang security, maupun dalam pertemuan atau forum lainnya. Ia tak berdiri di podium atau memegang pengeras suara. Tetapi setiap langkah istrinya, ia tahu. Setiap air mata yang tertahan, ia lihat. Dan setiap keraguan yang terkadang muncul, dialah yang pertama menguatkan.
“Kalau memang menurutmu itu benar dan untuk kebaikan semua orang, lanjutkan saja.”
Itulah kalimat sederhana yang sering ia ucapkan kepada istrinya.
Dukungan yang ia berikan bukan tanpa harga. Terkadang, ada saja penilaian yang tidak menyenangkan. Bukan hanya tentang kebaikan, tetapi juga tentang hal-hal yang kurang enak didengar. Sindiran dan cemoohan sering ia terima—ia telan dalam diam, ia simpan dalam hati.
Ada yang menyindir, “Istrimu terlalu berani.”
Ada pula yang meremehkan perannya sebagai suami—dengan label “suami takut istri” atau “terlalu membiarkan istri bebas.”
Tekanan sosial itu tidak ringan. Namun ia memilih untuk tetap tenang. Ia memahami bahwa setiap orang memiliki mulut untuk menilai.
Ia tahu, perjuangan istrinya bukan tentang mencari perhatian, melainkan tentang memperjuangkan martabat—terutama bagi perempuan di perkebunan sawit. Ia percaya, suara lantang itu lahir dari hati yang peduli.
Sebagai suami, ia tak merasa kehilangan wibawa saat mendukung istrinya. Justru di situlah ia menemukan makna cinta yang sesungguhnya: mendampingi tanpa menguasai, menguatkan tanpa membatasi.
Ketika intimidasi datang, ia menjadi tembok perlindungan.
Ketika cibiran terdengar, ia menjadi telinga yang sabar.
Ketika sang istri hampir menyerah, ia menjadi pengingat alasan pertama perjuangan itu dimulai.
Namanya mungkin tak pernah disebut dalam berita organisasi. Ia tak tercantum dalam struktur kepengurusan. Namun di balik setiap keberanian sang istri, ada doa yang terus dipanjatkannya—memohon perlindungan kepada Sang Maha Kuasa.
Inilah kisah tentang “Jiwa yang Selalu Menemani”—
jiwa yang tidak takut pada omongan orang, tidak goyah oleh tekanan, dan tidak cemburu pada panggung perjuangan.
Jiwa yang percaya bahwa pernikahan bukan soal siapa yang lebih tinggi, tetapi siapa yang mau saling menolong dan menopang.
Karena pada akhirnya, perjuangan bukan hanya milik mereka yang bersuara lantang di depan. Perjuangan juga milik mereka yang setia berdiri di samping, memegang tangan, dan berkata:
“Aku di sini. Kita hadapi bersama.”
(Yohana Ullu)